Recent News

Read the latest news and stories.

Metode Persediaan Stok Barang FIFO, LIFO, dan Average COST

Dalam akuntansi, persediaan barang bisa dihitung dalam beberapa metode, dimana metode ini bisa disesuaikan dengan jenis perusahaan dan juga kepentingan perusahaan.

Persediaan merupakan semua barang yang dimiliki perusahaan dengan tujuan untuk dijual kembali atau dikonsumsi dalam operasi normal perusahaan. Terdapat dua sistem pencatatan akuntansi persediaan yaitu sistem perpetual dan sistem periodik (fisik).

Penentuan kedua sistem pencatatan tersebut tergantung pada kebijakan yang diambil oleh perusahaan.

  1. Metode Perhitungan FIFO
  2. Metode Perhitungan LIFO
  3. Metode Perhitungan Average Cost

Penjelasan masing-masing metode adalah sebagai berikut :

1. Metode Perhitungan FIFO

First In First Out yang artinya masuk pertama keluar pertama, maka pada metode ini unit persediaan yang pertama kali masuk ke gudang perusahaan akan dijual pertama.

FIFO (First-In, First-Out) adalah metode untuk menentukan harga pokok penjualan dengan cara mengasumsikan bahwa produk yang sudah terjual merupakan produk terlama dalam inventaris.

Biaya yang dikeluarkan untuk produk terlama itulah yang digunakan dalam perhitungan. Singkatnya, metode FIFO akan menghapus produk paling awal yang masuk dari akun persediaan setiap terjadi pencatatan penjualan.

Misalnya, Anda menjalankan bisnis penjualan roti, maka roti yang terlebih dahulu dijual yaitu roti yang pertama kali masuk ke toko Anda. Perhitungan biaya dari roti yang terjual pertama itulah yang dijadikan sebagai biaya pokok penjualan.

Penggunaan metode perhitungan FIFO menguntungkan perusahaan karena natural dan bisa mengantisipasi setiap persediaan agar tidak tersimpan terlalu lama. Dengan demikian, persediaan akan lebih aman dan tidak terhindar dari masa kadaluarsa/ expired.

Metode FIFO memiliki banyak keunggulan bagi perusahaan yaitu

  • Perusahaan bisa menghasilkan Harga Pokok Penjualan (HPP) yang rendah
  • Menghasilkan laba kotor yang tinggi
  • Menghasilkan persediaan akhir yang lebih tinggi.

Namun, penggunaan metode FIFO memiliki kekurangan dalam segi perpajakan, karena bisa menghasilkan kewajiban pajak yang besar. Selain itu, metode ini berdampak pada laba yang dihasilkan menjadi tidak terlalu akurat.

Perusahaan yang cocok menggunakan metode FIFO

1. Perusahaan yang menjual produk dengan kadaluarsa

Perusahaan seperti warung kelontong, minimarket, dan supermarket memiliki produk yang beragam jenisnya dengan batasan kadaluarsa yang berbeda pula. Maka dari itu, metode FIFO sejalan dengan konsep penjualan mereka.

Perusahaan tersebut pasti akan meletakkan produk yang terlebih dahulu masuk ke gudang atau ke catatan inventaris pada bagian paling depan rak display agar produk tersebut diambil lebih dulu oleh pembeli.

Rata-rata, semua staf yang bertugas mendisplay produk akan membongkar sisa produk di rak, memasukkan produk baru di bagian paling belakang, baru kemudian memasukkan kembali produk terlama di bagian depan.

Dengan metode pencatatan seperti itu, persediaan akhir barang di gudang penyimpanan akan tetap tinggi dan cenderung stabil tapi pengeluaran tetap bergantung pada produk yang tersedia di rak display.

2. Perusahaan makanan

Metode persediaan FIFO cocok diterapkan di perusahaan yang memproduksi barang makanan karena penjualan produk terlama akan menjadikan persediaan selalu fresh.

2. Metode Perhitungan LIFO

LIFO artinya adalah yang masuk terakhir keluar pertama. Metode ini mengasumsikan unit persediaan yang dibeli pertama akan dikeluarkan di akhir.

Artinya, unit yang dijual pertama adalah unit persediaan yang terakhir masuk ke gudang. Jadi biasanya persediaan akhir barang dagangan akan dinilai dengan nilai perolehan persediaan yang pertama atau awal masuk.

Metode biaya persediaan LIFO ini adalah didasarkan pada asumsi bahwa aliran keluar biaya persediaan adalah kebalikan dari kronologi terjadinya biaya.

Pada metode ini, harga beli terakhir dibebankan ke operasi dalam periode kenaikan harga (inflasi), sehingga laba yang dihasilkan akan kecil dan pajak yang terutang juga menjadi lebih kecil.

Namun, berdasarkan PSAK 14 metode LIFO tidak boleh digunakan lagi.

3. Metode Perhitungan Average Cost

Metode average biasa disebut metode rata-rata. Metode average membagi antara biaya barang persediaan untuk dijual dengan jumlah stok yang tersedia.

Sehingga persediaan akhir dan beban pokok penjualan dapat dihitung dengan harga rata-rata. Metode average adalah titik tengah atau perpaduan dari metode FIFO dan LIFO.

Jadi kelebihan dan kekurangan metode ini berada diantara metode LIFO dan FIFO.

Dalam penerapan metode Average berarti perusahaan akan menggunakan persediaan barang yang ada di gudang untuk dijual tanpa memperhatikan barang mana yang masuk lebih awal atau akhir.

KESIMPULAN

FIFO dapat membuat laporan keuangan lebih impresif, karena margin pendapatan yang lebih besar dibanding dengan metode rata-rata. Namun, karena margin yang besar ini membuat keuntungan yang tercatat menjadi lebih besar pula. Sehingga pajak yang harus dibayarkan menjadi lebih besar.

Sementara, dengan metode rata-rata, margin yang didapatkan relatif lebih kecil sehingga pajak yang dibayarkan menjadi lebih rendah.

Sumber : jurnal.id

You may also like

Comments

No Comments

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *